Selasa, 16 September 2008

PRAMUGARI PAPUA

By.Pares L.Wenda

Betapa bahagianya hatiku,

Ketika hitam manis mengudara.

Betapa bahagianya jiwaku

Ketika sejumnya menggetarkan jiwaku.

Puluhan tahun lamanya

Aku menunggu.

Kapan dan di mana

Aku akan melihatmu.

Di awan-awan dan lagit biru

Di atas udara tanah Papua.

Seorang putrid Papua

Menjadi pramugari melayani

Masyarakatnya, rakyatnya,

Rakyat Papua Barat.

Semog memimpi ini menjadi kenjataan

Di kemudian hari.

(ditulis pada pukul 12.12 WP

waktu perjalanan ke Wamena di atas udara.

Di wilayah Mamberamo, tgl, 25 January 2008)

Senin, 15 September 2008

Nilai-Nilai Budaya Papua Harus Dipertahankan

16 September 2008 04:19:43


SARMI- Ketua Panitia Penyuluhan Nilai-nilai Budaya Bagi Remaja dan Pemuda tahun 2008 Kabupaten Sarmi, Hanock Ruborias, mengatakan seiring dengan perkembangan jaman yang semakin mengglobal dan perkembangan teknologi yang semakin canggih, maka berdampak adanya transformasi budaya baru yang dikhawatirkan akan melunturkan nilai-nilai budaya Papua.
Terkait dengan itu, maka Dinas Kebudayaan Provinsi Papua bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Sarmi, Selasa (9/9) lalu menggelar penyuluhan nilai-nilai budaya bagi remaja dan pemuda tahun 2008 di Kabupaten Sarmi.
Menurutnya, penyuluhan ini sengaja digelar untuk memberikan pemahaman kepada pemuda dan remaja bahwa nilai-nilai budaya Papua saat ini harus dipertahankan. Terutama dari pengaruh-pengaruh arus transformasi budaya baru, sebab nilai-nilai budaya Papua, dalam hal ini nilai-nilai budaya di Kabupaten Sarmi merupakan norma-norma yang perlu dilestarikan dalam tatanan budaya.
Dikatakan, penyuluhan yang menghadirkan pembicara dari dosen antropologi Universitas Cenderawasih ini, menyampaikan materi tentang fungsi dan perkembangan serta upaya pembinaan nilai-nilai budaya terhadap pemuda dan remaja, kemudian tentang pola pengasuhan dan pendidikan nilai-nilai budaya dalam menghadapi era kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sementara itu, Bupati Sarmi, Drs. E. Fonataba,MM dalam sambutannya menyatakan, untuk mempertahankan nilai-nilai budaya perlu antisipasi, inovasi dan terobosan baru.
Bupati sangat setuju dengan adanya kegiatan penyuluhan ini, namun untuk kedepannya, jika Pemprov hendak melakukan kegiatan di kabupaten, sebaiknya melakukan koordinasi jauh-jauh hari, sehingga nantinya kegiatan itu akan membawa hasil yang baik.
Terkait budaya ini, bupati menjelaskan, bahwa pada tahun 1960-an, orang Papua merasa rendah, karena di sekolah selalu mendapat peringkat di belakang. Namun kemudian dilakukan terobosan dengan menunjukkan prestasi di bidang olah raga, sehingga hal ini membangkitkan semangat orang Papua, bahwa orang Papua bisa seperti rekan-rekan dari daerah lain.
Karena itu, Bupati menekankan kepada para remaja dan pemuda untuk menunjukkan jati diri bahwa orang Papua tidak bodoh, orang Papua bisa bereprestasi seperti saudara-saudara yang lain. Dengan demikian, kedepannya akan muncul kemandirian untuk mencapai suatu kemajuan, dengan tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya Papua. (fud)


http://www.cenderawasihpos.com/detail.php?id=19020


KEGIATAN PEMUDA BAPTIS 2005

ACUAN KEGIATAN KONFERENSI PEMUDA BAPTIS I PAPUA TAHUN 2005
By Komisi Pemuda Baptis
Jul 3, 2005, 09:57

A. Nama Kegiatan
KONFERENSI DEPARTEMEN PEMUDA I PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA BAPTIS PAPUA

B. Tema & Sub Tema
a. “MARI KITA MEMBANGUN BERSAMA”
b. Sub Tema :“Berusahalah Memelihara satu Tubuh, satu Roh, satu Pengharapan, satu Tuhan, satu Iman, satu Baptisan, satu Allah” (Efesus 4:3-6)

C. Dasar Pemikiran
Organisasi Pemuda Baptis telah lama berdiri dan disahkan dalam wadah Departemen Pemuda, sehingga pada setiap Kongres Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua selalu menetapkan Departemen Pemuda dalam organisasi Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua. Tentunya sangat beralasan, yakni dengan maksud Pemuda Baptis sebagai penerus gereja dan bangsa agar tetap eksis.

Kini Timbul pertanyaan, bahwa sejauh mana pemuda Baptis bergerak memacu diri dalam berbagai bidang? Dan sejauh mana peran serta pemuda dalam pembangunan kerohanian, mental dan fisik baik bagi dirinya dan keluarganya, gereja setempatnya, organisasi pemudanya, serta gerejanya dalam skop Persekutuan di Daerah, Nasional bahkan Internasional? Sejauh mana ilmu yang diperoleh melalui pendidikan formal maupun non formal dikembangkan untuk kesejahteraan dalam skop yang kecil sampai pada skop yang luas? Apakah pemuda Baptis sudah menghitung-hitung tentang seberapa banyak hasil karyanya yang bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain sejak balita sampai dengan saat ini? Dari sejumlah pertanyaan ini apabila satu pertanyaan saja yang dilontarkan kepada pemuda Baptis, ternyata tidak banyak yang berkomentar dan hampir semua pemuda Baptis menunjukkan rasa malu. Itu berarti bahwa perlu membangun komitmen, agar dengan satu visi dan misi yang jelas pemuda Baptis menata diri, berkarya bagi kemuliaan nama Yesus Kristus sekarang juga.

Empat (4) kebijakan dalam Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua, antara lain : Penginjilan, Pendidikan, Kesehatan, dan Pemberdayaan Ekonomi Umat, adalah misi yang sudah jelas untuk dilaksanakan.

Dengan demikian seluruh pemuda Baptis yang ada di daerah pedalaman, di pesisir pantai, dan diluar daerah se-Indonesia maupun se dunia berkomitmen untuk giat selalu dalam pekerjaan Tuhan.

D. Dasar Pelaksanaan.
1. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PGBP;
2. Hasil Rapat Perdana di Jayapura tanggal, 28 January 2004;
3. Hasil Rapat ke dua di Wamena tanggal, 2 Februari 2004;
4. Hasil Rapat ke tiga di Jayapura tanggal, 9 Juli 2004;
5. Hasil Rapat ke empat pada hari senin tanggal, 6 Mei 2005 bertempat di Magi;
6. Saran dan usul dari seluruh pemuda Baptis;
7. Surat Keputusan Departemen Pemuda Baptis Papua No. 02/DP-PGBP/SK/VI/2005, tanggal, 11 Juni 2005 tentang penetapan panitia pelaksana Konferensi Departemen Pemuda Baptis I Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua.

E. Tujuan Kegiatan
1. Membahas teknis pelaksanaan tentang empat program PGBP antara lain : Penginjilan, Pendidikan, Kesehatan, Pemberdayaan Ekonomi dan Keuangan Umat Baptis;
2. Melengkapi Pengurus Departemen Pemuda Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua;
3. Efaluasi pembangunan Ekonomi, Politik, Kesehatan, Infrastruktur dan Hak-hak Asasi Manusia di Tanah Papua;
4. Menyamakan persepsi, pandangan, memantapkan tekad, memacu diri untuk membangun kerja sama tim dengan suasana kekeluargaan dalam kasih Kristus;
5. Melakukan kegiatan bedah buku tentang Sejarah Perkembangan Gereja Baptis di tanah Papua;
6. Meresmikan kantor Pemuda Baptis wilayah Maggi;
7. Merayakan hari Ulang Tahun Gereja Baptis Papua yang jatuh tepat pada tanggal, 14 Desember 2005.
8. Meluncurkan Buku Sejarah Gereja Baptis Papua karangan Bpk. Lelius Wanimbo, MA

F. Bentuk Kegiatan, Waktu dan Tempat Pelaksanaan.
a) Sharing dan Game dalam rangka menyongsong Konferensi Departemen Pemuda I Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua.
b) Seminar dengan metode ceramah dan Tanya jawab.
c) Dialog interaktif seputar 4 (empat) kebijakan pokok PGBP (Penginjilan, Pendidikan, Kesehatan dan Ekonomi Umat)
d) Pelaksanaan Konferensi pada hari Jumat, 9 Desember s.d. 14 Desember 2005. Bertempat di Gereja Syahid Maggi. Distrik Maggi Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua.

G. Target Undangan
Undangan yang ditargetkan hadir untuk mengikuti kegiatan sebanyak 300 orang, yang terdiri dari beberapa unsur, yaitu

1. Badan Pelayan Pusat Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua
2. Badan Pengurus Pemuda Gereja
3. Mitra Pelayanan
4. Unsur Pimpinan daerah

H. Sumber Dana dan Pembiayaan
1. Sumber dana yang diharapkan terkumpul melalui :
a. Sumbangan Wajib .
b. Sumbangan Sukarela / Bantuan Donatur
c. Usaha Panitia

2. Pembiayaan :
Sumber dana yang diharapkan terkumpul senilai Rp. 250.000.000,- (Dua Ratus Lima Puluh Juta Rupiah) untuk habis terpakai pada seksi :
v Seksi Acara Rp. 20.000.000,-
v Seksi Publikasi Rp. 10.000.000,-
v Seksi Dekorasi Rp. 10.000.000,-
v Seksi Perlengkapan Rp. 10.000.000,-
v SeksiDokumentasi Rp. 10.000.000,-
v Seksi Usaha Dana Rp. 10.000.000,-
v Seksi Konsumsi Rp. 50.000.000,-
v Seksi Kesehatan Rp. 10.000.000,-
v Seksi Keamanan Rp. 10.000.000,-
v Seksi Doa Rp. 10.000.000,-
v Seksi Transportasi Rp. 100.000.000,-
Jumlah --------------> Rp. 250.000.000,-

I. Pelaksana Kegiatan : Panitia Pelaksana (SK terlampir)

J. Penutup
Demikian kerangka acuan ini dibuat dengan sebenar-benarnya oleh Panitia Konferensi Departemen Pemuda Baptis I Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua untuk dilakukan sebagaimana mestinya. Akhirnya tak lupa kami ucapkan terima kasih atas dukungan Bapak/Ibu/Sdr/I berupa Doa, Daya dan Dana guna suksesnya kegiatan dimaksud. Doa Kami kiranya Tuhan senantiasa memberi berkat bagi kita sekalian yang setia melayani Dia. Akhirnya “Hanya Sekali kita Hidup itupun akan berlalu, tetapi apa yang kita buat untuk Tuhan Kekal tak ‘kan layu”.

Teriring Salam dan Doa

PANITIA KONFERENSI BAPTIS I PEMUDA

PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA BAPTIS PAPAU

TAHUN 2005

Pares Lood Wenda, SE
Ketua Umum

Willius Kogoya, S.Pd
Sekretaris Umum

Mengetahui
Departemen Pemuda

Ev. Lelius Wanimbo, MA
Koordinator
______________________
Catatan:
SEMUA INFORMASI KONFERENSI DAPAT DILIHAT DISINI : http://groups.yahoo.com/group/KONFERENSI
ANDA DAPAT MENAIKAN BERITA LEWAT EMAIL GROUPS :
email: KONFERENSI@yahoogroups.com

PEMERINTAH PROVINSI PAPUA MENAIKAN UMP: 13 PERSEN, UNTUK SIAPA?


BY. Pares L.Wenda
Dalam headline news Cepos tanggal, 12 Desember 2002 di tulis bahwa UMP (upah minimum regional Papua) naik 13 persen. Ump yang sebelumnya Rp. 530.000.00 menjadi Rp. 600.000.00,(Naik 13%) atau penambahan Rp. 70.000.00. Dikatakan bahwa Gubernur belum mensyahkan dan belum tanda-tangani dan belum ada respon balik dari pihak pengusaha di seluruh Papua.

Kenaikan itu merupakan keuntungan bagi karyawan/ti di seluruh perusahaan di tanah Papua.Namun ada beberapa pertanyaan substansial yang dapat diajukan di sini antara lain:

1. Dapatkah semua keryawan/ti dapat mengerti UMP tersbut?
2. Apakah UMP itu dikenakan kepada seluruh perusahaan besar saja? Ataukah juga dengan perusahaan menengah ke bawah?
3. Asumsi apa sajakah yang melandasi kenaikan UMP tersebut?

Dari ketiga pertanyaan di atas jika dapat di jalaskan satu persatu, maka saya dapat menyelaskan argumen saya dari pertanyaan pertama, yaitu: Mungkin saja karyawan/ti dari luar Papua dan secara khusus di masyarakat Papua yang
terpelajar yang bekerja dapat mengerti apa UMP itu dan mereka akan menuntut jika perusahaan tidak bayar sesuai dengan ketetapan tersebut. Tetapi menurut pendapat saya sebagian besar masyarakat di tanah Papua ini belum dapat mengerti apa itu UMP, karena itu sangat diharapkan sekali kepada Pemerintah, Perguruan tinggi yang ada di tanah Papua, dan masyarakat inteltual hendaknya dapat mensosialisasikan pengertian UMP tersebut kepada masyarakat luas sehingga mereka tidak dapat ditipuh oleh pengusaha yang nakal(dalam pengertian tidak mau membayar sesuai dengan ketentuan yang berlaku).

Pertanyaan kedua:
Menurut saya jika UMP di atas dikenakan kepada perusahan besar seperti PT. FreePort, Pabrik Kayu Lapis, Pabrik Kelapa Sawit, Perusahaan LNG yang akan dibuka tahun 2003 oleh Megawati Presiden RI yang rencana MoU ditandatangani di Biak, itu ada baiknya tetapi bagaimana dengan Pengusaha menengah ke bawah, mampukah mereka bayar karyawan/ti mereka? Jika karyawan/ti mereka jumlahnya lebih banyak, otomatis dengan UMP yang baru pengusaha tersebut akan mem PHK karyawannya, atau harus disesuaikan dengan kemampuan bayar perusahaan dengan kesepakatan pimpinan dengan karyawan/ti. Dan juga menurut pendapat saya bahwa hendaknya perusahaan-perusaah menengah kebawah yang dimiliki oleh perorangan dengan usaha sejenis hendaknya merger sehingga dapat meminimalisasi pengeloaan usaha dan meminimalisasi PHK yang kemungkinan bisa terjadi kaibat dampak dari kenaikan UMP tersebut.

Pertanyaan ketiga:
Asumsi yang dapat ditarik oleh pemerintah yang juga menjadi pengamatan saya, dimana saya melihat bahwa kebutuhan hidup sehari-hari di tanah Papua hari demi hari meningkat tajam terutama barang-barang industri maka UMP yang dinaikan itu menurut saya sangat kurang, apalagi di Jayapura uang Rp. 50.000.00 itu sudah tidak ada nilai dalam belanja keluarga untuk satu hari, dan juga di wamena peredaran uang di sana di atas Rp.500 dan jika kita makan di warung harga makanan di sana sangat mahal di atas 15.000.00, jadi sangat diharapkan sekali bahwa hendaknya setiap tahun harus ada kajian ulang terhadap kenaikan UMP.Jika kita lihat koran Cepos pada hari rabu halaman (14) Ekonomi dan Bisnis dikatakan bahwa inflasi dikota Jayapura secara keseluruhan turun 7 persen pada bulan November dari bulan sebelumnya dibanding dengan bulan oktober, walaupun beberapa sektor seperti transportasi dan perumahan mengalami kenaikan dan sementara kelompok makanan turun 0.64% dari bulan sebelumnya 1.22%. Sementara itu secara nasional inflasi mencapai 1.85%. Inflasi tersebut baru di kota Jayapura, mungkin saja secara makro untuk Papua barangkali lebih tinggikarena dibeberapa daerahbarang-barang yang diperdanggangkan di sana harganya melambung tinggi seperti di Kabuaten Puncak Jaya dan Kabupaten Jayawijaya. Oleh karena itu saya mengusulkan agar:

1. UMP ini harus mendapat tanggapan dari berbagai pihak terutama pelaku ekonomi di tanah Papua.
2. Masing-masing daerah di tanah Papua harus menetapkan UMD sesuai kebutuhan daerah tersebut dengan mengacu kepada UMP.
3. Harus ada sosialisasi pemahaman tentang UMP kepada masyarakat agar mereka tidak dipermainkan oleh pengusaha.

Penilis adalah: Tokoh Intelektual Jayawijaya
dikutip dari: West Papua News Online

EnamTahun Otonomi Khsus di Papua


Ekonomi Warga Lokal Berjalan Di Tempat

Begitul kinerja bangsa Kolonial, ia tidak pernah bermimpi untuk membangun bangsa Papua dengan hati yang tulus. Kecuali bangsa Papua mau merdeka dan lepas dari NKRI atau solusi lainnya perlu ditempu rakyat Papua agar bangkit dari
keterpurukan ekonomi yang dialami oleh mereka.

Dunia internasional dan sebagian rakyat Indonesia yang sangat peduli pada penderitaan bangsa Papua khususnya dalam bidang ekonomi selama ini hanya mengkritisi tentang kinerja Indonesia dan dunia internasional tentang penguasaan ekonomi Papua dari sumber daya alam (SDA) yang dimiliknya.

Seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Di mana Baik orang Indonesia dan masyarakat Internasional mendukung perjuangan rakyat Papua di satu sisi, dan di mana orang Indonesia dan masyarakat Internasional lainnya
berfikir untuk menguras kekayaan alamnya dan membunuh masyarakat Papua pada sisi yang lain.

Lalu dimana letak dua kekuatan itu? Kekuatan pendukung perjuangan rakyat Papua ada pada Gereja, NGOs, Universitas dan masyarakat akar rumput (Gracerood People) dan parlement se dunia sedangkan kekuatan lainnya yang menguras kekayaan alam dan membunuh rakyat Papua adalah Government, Military
dan Perusahaan Multinasional. Tetapi jika ke dua sisi mata uang ini bersatu dan bersepakat untuk mendukung perjuangan rakyat Papua maka pintu untuk kebebasan dan kemerdekaan rakyat Papua semakin terbuka untuk mencapai cita-cita menuju Papua baru sesuai dengan mimpi-mimpi rakyat Papua.

Atau sebaliknya jika kedua kekuatan itu bersatu untuk membunuh rakyat Papua dan menguras kekayaan alamnya, maka hal itu hanya menunggu waktu saja bahwa sejarah harus mencatat bahwa masyarakat kulit hitam seperti saudara-saudaranya di AFRIKA, di Timor Lorosae, di PNG, di Masyarakat kulit hitam Melanesia lainnya dan di Amerika pernah ada dan hidup di tanah Papua sejak mereka eksodus 4000 tahun yang lalu dari Irak, Mesopotamia bersamaan
waktu dengan ABRAHAM (nenek moyang bangsa Israel dan Bapak segala bangsa itu) ke tanah Kanaan atas Ijin Tuhan Allah dari Ur-Kasdim, Irak. Habis dibinasakan oleh bangsa???.? Bangsa ????..? Dengan kekuatan militer, atau
kekuatan lainnya.

Penguasaan ekonomi multi nasional tersebut, diantaranya adalah Pertambangan Emas dan Tembaga di Timika yang dikelola oleh PT.Freeport Indonesia, Ltd, milik perusahaan Amerika. BP di Manokwari milik Perusahaan Inggris.

Perusahaan Perminyakan dan Perusahaan Ikan di Sorong. Perusahaan Pabrik Kayu Lapis di Manokwari. Perusahaan Ikan di Biak. Perusahaan Kelapa Sawit di Manokwari dan Keerom. Ilegal Loging, dan lainnya. Semua sumber daya tersebut
terdapat di laut dan daratan Papua, yang diexplorasi oleh Indonesia dan dunia internasional.

Perusahaan ? perusahaan Multinasional yang memproduksi Kayu di Papua menurut Agus Sumule misalnya seperti : Perusahaan Kayu Lapis Indonesia 134.8433. Perusahaan Djayanti 70.2473. Perusahaan Barito Pasific Timber 36.4963.

Perusahaan Alas Kusuma 53.6663. Perusahaan Korindo 136.0243. Perusahaan Wapoga Mutiara Timber 57.5843. Perusahaan Hanurata 61.1053. Other Group 212.3573. Produksi kayu ini, dilakukan pada periode 1999/2000. Pendapatan Provinsi Papua dari Freefort Menurut Agus Sumule dari PT.Freepotr tahun 1997 dari berbagai jenis pendapatan dalam nilai Dolar antara lain: Royalti, $25,26. Sewa $0,21.Pajak Bumi dan Bangunan $2.07. Mineral Tipe C dan Air $0,50. Pajak Kendaraan $0,14. Pajak Orang Asing $0,004. Pada tahun 1991 misal PT.Freeport telah menggali emas dan Tembaga sebesar 222.000 Ore perhari dengan biaya yang sangat rendah. Perusahaan ini membayar pajak kepada Indonesia pada periode 1991-2001 sebesar $180 million pertahun.

Demikian hal dalam produksi-produksi dalam jenis usaha lainnya yang dikelola oleh perusahaan multinasional baik milik NKRI maupun milik dunia Internasional. Pesan yang mau disampaikan disini adalah bahwa ?hampir seluruh penulis internasional, nasional dan local menyoroti tentang kinerja
dari pada perusahaan-perusahaan besar tersebut. Kemudian mereka mulai menyoroti efek dari perusahaan itu yang mengarah pada perusahkan lingkungan hidup atau perusahaan itu tidak dapat meningkatkan derajat ekonomi orang
asli Papua.

Hal itu patut dihargai, dihormati sebagai suatu perjuangan yang dapat membongkar tirani atau kebobrokkan dari manusia-manusia yang katanya sudah maju status sosialnya tetapi kenyataannya mereka itu adalah manusia-manusia kanibal berkelas Modern.? Mereka sangat rakus, mereka dapat mengambil kekayaan alam itu seenaknya saja, dengan imbalan yang sangat rendah. Sepertinya dunia ini tidak adil, bagi orang asli Papua, pemilik ahli waris dari negeri ini.

Yang saya maksudkan Ekonomi akar rumput itu, adalah masyarakat internasional belum menyentuh ekonomi masyarakat asli Papua. Pergerakan ekonomi mereka dewasa ini berpusat pada hasil-hasil pertanian atau hasil-hasil bumi. Hasil
bumi yang dimaksudkan disini adalah mereka hanya mampu menjual Daun Singkong, Ubi Jalar, Singkong, Pinang, Kakung, Kacang Panjang, Jagung, buah pisang, buah pepayah, buah jeruk, alpokat, buah salak, hasil tangkapan ikan
laut, ikan air tawar, dan sejumlah komoditi pertanian lainnya. Produksi ini dilakukan dengan tenaga manusia.

Pemerintah tidak mempersiapkan mereka untuk menggunakan tekonologi modern yang dapat menghasilkan produk pertanian yang berjumlah besar dan berkontinuitas dan yang dapat meningkatkan pendapatan keluarga orang asli
Papua.

Produksi padi di Merauke dapat kita lihat bahwa yang mengelolah pertanian pada di sana adalah orang-orang Jawa, Transmigrasi, bukan orang asli merauke. Jika orang asli merauke yang dipersiapkan sumber daya manusianya dan mengelolah pertanian padi tersebut, alangka indahnya.
Pemerintah juga belum maksimal dalam menyediakan pasar local, nasional dan internasional yang memadai untuk menjual komoditas produksi unggulan kepada konsumen local, nasional dan juga internasional.

Hasil produksi mereka, kalaupun mereka menghasilkan uang, uang itu tidak cukup untuk saving, tetapi hanya cukup untuk belanja barang-barang industri seperti garam, veksin, minyak goreng, beras dan lainnya untuk dikonsumi keluarga pada hari ini. Sedangkan untuk hari esak tidak tahu orang harus makan apa? Kondisi ini dialami oleh hampir sebagian masyarakat yang hidup di kota-kota besar seperti Jayapura, Sorong, Nabire, Biak, dan daerah lainnya.

Sedangkan masyarakt di dusun-dusun dan kampung-kampung mereka tidak memerlukan uang dan juga barang-barang produksi industri. Mereka cukup hidup pada hasil yang disediakan oleh alam dan hasil pengelolahan ekonomi secara tradisional. Karena uang maupun hasil produksi industri tidak beredar di kampung. Kalaupun beredar itu sifatnya hanya komplementer atau pelengkap
dari produk-produk alami yang disediak dan dikelola oleh alam.

Dalam laporan Pusat Statistik Provinsi Papua (BPS Provinsi Papua) pada tahun 2006, baru-baru ini pada media Lokal ?SUARA PEREMPUAN PAPUA? yang lalu misalnya mengeluarkan data-data tentang pertumbuhan ekonomi dan juga eksopor impor dengan Negara tujuan Jepang, Cina, Spanyol, dan Amerika Serikat. Hasil produksi sumber daya alam yang diekspor keluar negeri dan sebaliknya produk yang dimpor ke Papua itu untuk siapa? Untuk memperkaya siapa? Karena kenyataannya dilampangan membuktikan bahwa rakyat belum dapat mengelolah ekonomi yang berskala besar. Tidak ada satu orang Papua pun mempunyai CV, PT, Firma, Supermarket, Minimarrekt yang dapat bersaing dengan perusahaan-perusahaan Lokal, Nasional dan Multinasional milik orang Indonesia atau milik orang Asing yang beroperasi di Papua.

Ekonomi yang berbasisi industri saja masih dikelola oleh Orang Indonesia (Jawa, Kalimantan, Bali, Sumatera, Sulawesi dan Maluku) lalu di mana bagian orang Papua. Orang Papua hanya berkutat pada ekonomi pertanian, tetapi mereka tidak mengelolah ekonomi pertanian dalam skala yang besar dalam
artian kelompok, atau memiliki perushaan yang mengelola bidang usaha ini, tetapi mereka lebih condong bergerak dalam usaha perorangan pada bidang pertanian.

Jadi, sangat tidak masuk akal jikalau pemerintah dalam laoprannya mengatakan ada peningkatan ekonomi rakyat yang cukup signifikan di Papua, jika laporan itu benar maka pemerintah lebih melihat pada perekonomi orang pendatang bukan pada orang asli Papua. Sedang secara nasional perekonomian Papua secara nasional, Papua selalu berada pada posisi di atas Nusa Tenggara Timur, Nusatenggara Barat dan di bawah Provinsi-Provinsi di Kalimatan.

Pada Papua dapat menghasilkan sumber daya pertambangan, perminyakan, perkayuan, perikanan paling besar di Indonesia,
mungkin dapat mencapai Income PAD di bawah DKI Jakarta tetapi sayang, itu tidak pernah terjadi. Karena itu laporan-laporan pemerintah Papua itu perlu dibuktikan keapsahannya, peneliti-peneliti idependen baik dari universitas yang ada di Papua, Indonesia maupun tingkat dunia Internasional.

Ekonomi riil yang ada di Papua dewasa ini adalah mereka masih miskin di atas kekayaan alamnya sendiri. Dalam taraf hidunya mereka masih sangat rendah. Kesehatan mereka belum membaik, usia harapan hidup pada orang dewasa berkisar antara 20 ? 30 tahun saja. Kemudian HIV/AIDS meningkat tetapi sebenarnya peningkatan orang-orang yang kena penyakit ini terlalu dibesar-besarkan,, alias di proyekkan dan rumah mereka masih sangat sederhana.

Kemudian kemampuan intelektual orang Papua sudah cukup memadai tetapi modal usaha untuk mengelola sumber daya yang tersedia ini tidak pernah dilayani secara baik oleh pihak perbankan nasional swasta maupun meilik pemerintah dan pemerintah daerah yang beroperasi di seluruh tanah
Papua. Hal ini harus menjadi sorotan dunia Internasional.

Implentasi otonomi khusus perlu dipertanyakan. ABPD misalnya dibahas pada bulan January/peberuari tetapi pelaksanaan proyek baru dilakukan pada bulan November dan Desember, lalu kapan dilakukan pembangunan. Dalam 12 bulan itu apa saja yang dikerjakan. Anggaran yang diperuntukkan untuk 12 bulan itu dikemanakan? Apakah kembali ke kas Negara atau kemana? Kita tidak bisa, bermain-main disini.

Kata kunci dan pesan yang dapat kami sampaikan disini adalah bahwa pertumbuhan ekonomi rakyat di Papua masih berjalan di tempat. Alias ekonomi akar rumput rakyat Papua belum sepenuhnya diangkat derayatnya untuk bersaing pada ekonomi industri, dengan kemampuan managerial yang baik. Begitul
kinerja bangsa Kolonial, ia tidak pernah bermimpi untuk membangun bangsa Papua dengan hati yang tulus. Kecuali bangsa Papua mau merdeka dan lepas dari NKRI atau solusi lainnya perlu ditempu rakyat Papua agar bangkit dari
keterpurukan ekonomi yang dialami oleh mereka.

Penulis: Pares L.Wenda, SE
Aktivis dan pemerhati Ekonomi Rakyat Papua
Ketua II Departemen Pemuda Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua Sekretaris Jendral Lembaga Masyarakat Pegunungan Tengah Papua.

http://www.melanesianews.org/kabar/publish/article_1407.shtml
http://jakarta.indymedia.org/newswire.php?language=id&results_offset=120

KAMPUNGKU YANG INDAH

oleh:Pares L.Wenda

Sayah melihat pemandangan yang indah ketika memandang engkau hai kampung Malagaineri.

Saya melihat hari ini pemandangan yang mempesona ketika melihatmu hai kampungku Tiomneri.

Saya melihat hari ini, pemendangan yang tidak pernah akan kulihat lagi di masa depan, indahnya kampung-kampung di Baliem, di kampung Kwiyawagi, dikampung-kampung Pirime, Magi, Danime, Yugwa.

Saya melihatmu oh Kwiyawagi engkau menghasilkan udang dan kentang. Oh Tiom engkau menghasilkan kopi, oh Magi engkau menghasilkan buah-buahan.

Oh Tiom engkau bukan lagi anak sulungku, engkau telah mengkianatiku. Oh Maki engkau, engkau tetap dihatiku. Oh Yugwa engkau mendengar apa yang yang Magi katakan. O baliem engkau membuat aku bingung, dimana engkau meletakan kakimu.

Oh saya melihat suatu malapetakah, sedang menimpa negeri dan kampung-kampungku ini. Engkau dulu sendiri, engkau dapat mengerjakan apa saja yang engkau suka,tapi kini tidak lagi, engkau diikat, diikat oleh system dan kekuasaan.


PUISI ANAK NEGERI PAPUA


SAYA BERMIMPI

Pares L.Wenda

Hari ini saya melihat

Kali Tiom yang biru bagaikan lagit biru

Hari ini saya melihat

Kali Malagai yang coklat bagaikan air teh tua

Hari ini saya melihat

Kali Balim bagaikan air teh muda yang siap diminum.

Saya bermimpi

Kali Tiom, kali malagai dan kali Baliem telah menghilang, sampah-sampah berserahkan di mana-mana.

Bau sampah menyengat kehidung-hidung manusia.

Banjir dan tanah longsor mewarnai kehidupan baru dipinggiran kali-kali ini.

Batu-batu tidak nampak lagi, orang mencari batu ke kedalaman 2000 kaki namun tidak ditemukan jejaknya.

Saya bermimpi, suatu hari

Saya bercerita kepada anak cucu saya, daerah kita ini dulu begini tetapi sekarang begini.

Cucuku bertanya mengapa terjadi begini? Apa yang akan saya jawab? Oh Tuhan saya sedih…!

Saya bermimpi, Lani Jaya

Apakah kau membawah malapetaka, ataukah engkau membawah persahabatan?

Orang-orang kolonial diterma dengan baik pada awalnya.

Namun ketika mereka mengusai segala sesuatunya, maka mereka mulai beraksi. Mengatakan tidak kemarin labih baik daripada mengatakan tidak sekarang.

Engkau sudah berhadapan dengan F-16